Dec 29, 2019

Masa Kehamilan Ghifaz 1


Assalammualaikum

Kali ini mau cerita tentang kehamilan Ghifaz, yaa walaupun anaknya udah hampir 20 bulan, keinginan buat nulis tentang hamil yang sudah berlalu itu timbul tenggelam, tapi tetap aja pengen nulis karena mumpung semua kejadian masih terekam jelas dalam ingatan, hahaha (#labil)

Jadi aku kan nikah 5 Agustus 2017 dan 11 Agustus 2017 jadi hari pertama haid terakhir. Nggak nyangka sih bakal dikasih rezeki dan kepercayaan sama Allah secepat itu, apalagi siklus haid aku ndak teratur, super berantakan banget lah. Sempet bingung juga sih dan beberapa teman nanya "koq bisa cepat?" Ku tak tahu kenapa, apa pun pasti yaa karena seizin Allah ya. Setelah nikah saran dari teman-teman aku turutin aja sih, diantaranya:
  • Minum susu untuk ibu hamil (aku minum Anmum 2 kali)
  • Minum folamil (setelah berhenti minum Anmum)
  • Makan kurma muda
  • Minta didoain sama orang tua
  • Berusaha dan berdoa
Entah yang mana yang bikin cepat hamil, ku tak tahu, yang pasti kalau Allah sudah berkehendak siapa pun tak kuasa mengelak toh. 

Pada saat itu 7 September 2017 badan berasa nggak enak, greges-greges gitu, setiap makan mual ndak karuan dan ada nyeri di sekitar payudara. Cerita ke Dewi yang udah punya 2 anak, dia bilang "kemungkinan elo hamil". Coba test pack lah, hasilnya negatif, karena belum telat yaa sudah cuek baek, mungkin masuk angin. Tanggal 9 September 2019 kram hebat di perut sampai dipapah gitu pas jalan. Dari hasil googling ku tahu tanda-tanda kehamilan salah satunya adalah kram perut, dicoba test pack, hasilnya tetap negatif ditaruh aja lah itu test pack di meja. Agak lamaan test packnya diambil sama Engat dan dia lihat samar-samar ada garis kedua. Senang banget pada saat itu antara percaya dan nggak percaya, kan belum telat, bersyukur aja lah. Atas saran dan masukan dari teman-teman, katanya lebih ke dokternya nanti aja 2-3 minggu lagi, supaya bisa usg perut ndak perlu usg transvagina. Aku pun nurut lah ya sama yang lebih berpengalaman.

Tanggal 11 di kampus cerita ke Mayya tentang test pack yang positif. Maya nyaranin buat langsung ke dokter aja, karena kita nggak tahu bagaimana kondisi janin, siapa tahu butuh penguat kandungan atau tindakan lain. Maya ini pernah beberapa kali hamil dan keguguran, dia ndak mau aku mengalami hal yang sama. Yaa sudah lah dengan berbagai pertimbangan kuikuti saran dari Maya. Daftar lah ke salah satu Obgyn di Rumah Sakit Hermina, dokter yang favorit udah penuh antreannya, yaa sudah lah aku sama dokter siapa aja, toh baru periksa pertama pasti SOP-nya sama, pikirku. Berangkat naik angkot sama Uti, Ayahnya Ghifaz dan Engat nyusul ke RS. Iyaa pada excited, semua ikut, hahaha. Udah minum banyak-banyak tuh biar bisa USG perut aja.  Setelah antre dan masuk ke ruangan dokter, setelah aku jelasin test pack yang positif itu di-usg lah perut ini. Dokternya periksa dengan kilat (semenit juga ndak ada) dan bilang tidak ada tanda-tanda kehamilan. "Ibu kan belum telat haidnya, ibu terlalu pengen punya anak, test pack juga bisa salah lho bu, untuk kram di perut ibu periksa aja ke dokter penyakit dalam". Udah malas lah yaa sama itu dokter dengan bahasanya yang seperti itu, malas nanya-nanya lagi, aku pun keluar dengan rasa kecewa, tapi yaa sudah lah mau gimana lagi, mungkin memang belum rezeki.

Kecewa banget sih sama dokter itu, USG asal gitu, kan bisa ya pakai bahasanya yang lebih baik "Meskipun test pack positif namun saat ini dari USG perut tidak tampak tanda-tanda kehamilan, mungkin dengan USG transvagina akan terlihat atau 2 minggu lagi ibu periksa lagi yaa?". Tapi yaa sudah lah sampai di rumah test pack lagi hasilnya positif, saking penasarannya aku bilang ke Engat, coba cuy test pack, kalau positif juga berarti test packnya yang bermasalah, hahaha

Rabu tanggal 13 September di kampus sebelum mulai kuliah, aku ke kamar mandi, dan kutemukan flek darah. Panik dong yaa, langsung bilang ke Mbak Fika yang kebetulan lagi hamil anak kedua. Mbak Fika bilang buruan ke dokter sekarang, periksain. Aku mikirnya rumah sakit terdekat adalah RSCM, kata Mbak Fika ada rumah sakit ibu dan anaknya, RSCM Kiara, langsung pesan gojeg meluncur ke sana. Sampai di lobi aku tanya ke security (mungkin salah yaa nanyanya ke security), aku jelasin kondisi aku, dia malah bilang ke fetomaternal aja bu, diberi petunjuk lah aku harus kemana. Yaa sudah aku nurut aja, Fetomaternal ini adanya di RSCM, kutanya antreannya nomor berapa, nomor 60 dong, langsung melipir, putar otak harus ke rumah sakit mana, ku tak sanggup kalau harus mengantri sebanyak itu. Kata Mas-masnya kalau mau cepat ditangani ke IGD aja, waduh lebih nggak mau lagi, IGD RSCM gitu, dan aku merasa nggak gawat-gawat amat, hehehe. Dipikir-pikir lagi mah nggak perlu juga kali ke fetomaternal, dikira bener-bener kondisi gawat darurat, hahaha

Aku kepikirannya ke Rumah Sakit Tambak, langsung stop bajaj yang yang ada di lobi, ku tak sanggup lagi kalau haru order ojek dan nunggu. Di bajaj telfon suami cerita kronologis kejadian, tak lupa cerita ke Bue juga, janjian sama suami di rumah sakit tambak. Nangis aja tuh aku sendirian di bajaj sambil doa "kalau memang kamu ada bertahan lah nak, tolong maafin ibu yaa". Lagi khusyuk nangis dan berdoa abang bajajnya salah ambil jalur, dan harus memutar dong lewat Pasar Rumput. Sampai di rumah sakit cerita lah ke bagian pendaftaran "saya test pack positif dan sekarang ada flek", setelah daftar aku diminta istirahat aja di ruang bersalin yang lagi kosong. Diminta pilih dokter, ku jawab "siapa aja lah yang penting saya cepat diperiksa". Waktu itu dr. Regintha yang praktik, dan harus nunggu jadwal praktiknya jam 11. Better lah yaa menunggu sambil tiduran dibanding ngantri di RSCM. Nggak lama suami datang, dibawain makanan dan minuman gitu yang tentu saja langsung disikat.

Jam 11an dokternya datang, pindah lah aku mengantri di depan ruangan dokter. Karena aku dibilang lagi ngeflek jadinya didahulukan. Cerita lagi deh kronologis kejadian, termasuk 2 hari sebelumnya periksa ke Hermina. Di-usg lah aku, berhubung masih 4-5 minggu (kalau beneran hamil) usg-nya transvagina, aku diminta untuk mengosongkan kandung kemih dulu sebelum usg. Diperiksa-periksa memang ada bentuk yang diduga adalah kantong kehamilan. Dokter Ghinta nggak bilang langsung ini hamil, dia bilang "semoga rezeki yaaa, banyakin berdoa" dua minggu lagi periksa. Intinya nggak mau ngasih harapan palsu lah, aku pun diminta test pack lagi hasilnya alhamdulillah positif. Aku diresepin Folamil Genio dan Utrogestan. Pulang dari dokter senang banget, ternyata memang hamil, semoga rezeki sampai lahir, tumbuh dewasa, dan menjadi kakek. Aamiin.

(Bersambung)

Salam
.
.
Poedjie
»»  Read More...

Oct 9, 2019

Tentang Waktu


Assalammualaikum

Tetiba kepikiran aja tentang waktu yang tanpa disadari selalu bergulir mengiringi keseharian kita, perasaan baru kemarin hari Senin berangkat kerja dengan separuh nyawa masih di rumah eh sekarang sudah pertengahan minggu lagi dan tetiba sudah akhir pekan lagi. Tanpa terasa pula anak yang kemarin perasaan masih bayi piyik koq sekarang sudah besar. Kita engehnya anak kita makin besar sudah bisa A, B, C dan seterusnya tapi kita nggak ngeh kita pun juga ikut menua begitu juga orang tua kita. Tahu-tahu usia udah di atas 30 tahun aja kan, ahhh sedih rasanya. Resolusi apa kabar yaa? Bikin aja nggak, hiks.... Di usia segini ingin ku benar-benar berbakti sama orang tua, ndak ngerepotin mulu, tolong maafkan anakmu ini yaa uti.....

Jadi merasa "not wise used time" kebanyakan scroll instagram dan shopee kayaknya, gimana yaa kan di instagram banyak ilmu yang bisa diambil juga, apalagi yang difollow kan selebgram influecer bukan akun-akun gosip #alasan. Nonton drama korea udah nggak sama sekali sih, dari tahun 2015 ndak nonton. Main game kadang-kadang aja sih, itu pun yang nggak bikin candu, word link gitu nyusun huruf jadi kata dalam bahasa inggris, kadang main candy crush juga sih, hihihi *tutup muka

Padahal yaa udah jelas banget, Allah sampai bersumpah "Demi Masa" dalam surat Al Ashr.
"Demi masa. Sesungguhnya  manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang beriman yang mengerjakan amal shaleh, nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat dan menasihati supaya menetapi kesabaran - QS. Al-Ashr : 1-3"
Kelak juga akan kita pertanggungjawabkan umur kita selama hidup ini dipakai apa aja. Tadi pagi juga baca quote di instagram (kan.... ada manfaatnya 😀) 
"Salah satu pengerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah - Buya Hamka"
Benar-benar menohok lho ini. Yaa pikiranku ndak cemerlang juga sih, tapi merasa terlalu banyak beristirahat dan pada akhirnya menyia-nyiakan waktu. Tilawah nggak, al matsurat pun ndak dibaca, menghafal juga nggak malah banyak yang lupa, baca buku juga nggak, dan serentatan aktivitas lain yang ndak dikerjain, unfaedah banget dah ini, kerjaan banyak yang terbengkalai, hiks. Harus mulai bikin to do list lagi ini, pilah-pilah aktifitas dan bikin prioritas, dan yang paling penting dikerjain sih itu to do list. 

Yuk ah benahi diri, benahi hidup. Kalau kata Aa Gym "mulai dari yang kecil dan dimulai dari sekarang". Semmangat..... For better life yaa ji 😇

Salam
.
.
Poedjie

»»  Read More...

Sep 12, 2019

Cincin




Assalammualaikum;

Sebagai pemanasan dari percuhatan, setelah kutengok-tengok draft nemu judul cincin ini, hehehe

Yess ini adalah cincin nikah aku (gpp lahh yah udah 3 tahun yang lalu). Dengan dasar hemat dan biar nggak kebanyakan cincin, kami memutuskan hanya ada satu cincin, cincin lamaran dan nikah pakai cincin yang sama. Tanpa pikir panjang aku langsung usul pesan cincin di toko langganan Bu Netti, Toko Emas Aurora di Blok M Square, ayahe Ghifaz mah iya-iya aja, hehehe. Kesepakatannya adalah aku pakai cincin emas dan Ayahe Ghifaz pakai cincin berbahan paladium. Jenis emasnya aku lebih suka emas putih dibanding warna lain, modelnya mah yang simple aja, yang penting harga masuk di kantong. 

Toko Emas Aurora ini nggak sebesar Toko Emas Kaliem yang terkenal di dunia percincinkawinan, kalau di Kaliem ini koleksinya banyak banget, aku mahh tambah bingung kalau kebanyakan pilihan, makanya prefer ke toko yang lebih kecil tapi koleksinya OK, langganannya Bu Bos gitu lho. Setelah pilih-pilih sregnya sama cincin ini. Modelnya simple banget, cincinya bulat padat, bukan yang kopong gitu di belakangnya, terasa agak berat gitu dan cuma ada garis di lingkaran depannya dan batu permata di tengahnya. Kebetulan cincin yang aku coba pas banget di jari aku, langsung bungkus deh, dan pesan model yang sama untuk Ayahe Ghifaz dengan bahan paladium. j

Untuk harga sebenarnya standar sih, cuma kita bisa nawar gitu, lumayan turunnya bisa 1-1,5 juta dari harga yang ditawarkan, harus pinter-pinter nawar dan pasang muka melas yaa. Grafir nama di cincin gratis.



Toko Mas AURORA
Blok M Square Lt. UG Blok A No. 36 Jakarta Selatan
Telp. 021 72802356
Hari Senin Libur

Salam
.
.
Puji





»»  Read More...

Sep 11, 2019

Sekilas Kabarku


Assalammualaikum,

Apa kabar dunia?
Kabarku pusing lihat draft postingan banyak bener yang "mangkrak". Pusing juga sih sama rutinitas yang yaa "begitu lah", hehehe

Jadi selama ini ngapain aja?
"Yaa begitu deh", hahaha. Sejujurnya sedih aku tuh, hidup yaa begitu-begitu aja, nothing special, tapi berusaha selalu mensyukuri segala nikmat dan karunia Allah SWT. Wajar lah yaa kalau kadang-kadang buka instagram liat selebgram bisa sharing macam-macam yang berdampak positif, lha aku? "kembali ke yaaa gitu deh?" hahaha. Mungkin aku memang ndak bakat bersharing ria seperti mereka, bisanya curhat ndak jelas macam ini *tepok jidat

So, what happen to me in 2019?
Secara singkat, setelah lulus dari dunia perkampusan, masuk kerja lagi, kembali ke pekerjaan dengan jobdesc yang bisa dibilang berbeda sekali dengan jobdesc sebelum kutinggalkan. Jadi beradaptasi lah aku sama jobdesc baru dan teman-teman yang "baru" walaupun sebenernya teman lama juga, wkwkwk. Kuakui masih bingung dengan situasi dan kondisi sekarang, lebih banyak memendam, makanya stress sendiri. Ku merasa demotivasi akut, hehehe. Bawaannya lelah aja, pulang kerja sampai di rumah ndak bisa ngapa-ngapain, ngelonin anak, aku pun ikut tertidur pulas sampai pagi,  ndak produktif banget, hiks.

Kangen rasanya sama diri ini yang lincah nan gesit, nggak gampang stress. Jadi PR banget ini manajemen diri. Alhamdulillah punya keluarga yang memahami aku dalam kondisi yang lagi "lemah" gini, mereka memaklumi, tapi akunya jadi malu sendiri, mereka terlalu baik, dan nyesek sendiri ndak bisa berbuat apa-apa.

Tadi sore tetiba kepikiran pengen curhat ria dengan menulis, harapannya bisa jadi stress release dan salah satu cara untuk "bangkit" kembali. Semoga bisa terus konsisten curhat, supaya jadi happy dan produktif lagi. Kenapa nggak di media sosial aja? Beda aja sih feel-nya. Tujuan utamanya menulis di blog ini yaa buat nyimpan memori sebenarnya, kalau ada efek samping lainnya kan yaa nayamul kimul-kimul, alhamdulillah.

Sampai jumpa di curhatan selanjutnya.
Salam
.
.
Puji
»»  Read More...

Feb 17, 2019

Beratnya Hidup?


Assalammualaikum....

Mumpung lagi berduaan aja sama Ghifaz di rumah dan bocahnya lagi tidur, mari melemaskan jari-jemari sebelum berkutat lagi sama revisian tesis dari perpus yang aduhai itu. Mari dimulai.....

Hidup itu berat? Benarkah? 
Beberapa hari ini ketika flash back ke belakang ke masa sebelum menikah, menikah, hamil, melahirkan dan sekarang jadi seorang ibu, yang aku rasain adalah it's so hard being a mother. Berat cuy. Padahal sebelum menikah yakin bakal bisa survive sama kehidupan pernikahan. Masalah cuci, setrika, beberes, gampang lah yaa, dari kecil juga udah biasa ngerjain kerjaan domestik macam ini. Masak? kalau cuma tumis-tumis, ayam goreng, sayur bening, sayur asem, sayur sop, bisa lah saya. Atur keuangan? bisa lah yaa, udah biasa juga koq. Itulah jumawanya saya, setelah mengalami menikah dan sebulan kemudian hamil dengan disertai mual dan muntah hebat plus jadi mahasiswa, bye-bye semuanya. Beberes bye, nggak sanggup, alhamdulillah keluarga yang handel semua, berterimakasih sekali ke adek, emak, dan suami tercinta. Masak pun bye juga, nyium bau bawang selama hamil aja muntah. Tapi kan sekarang udah nggak hamil, bisa dong ngerjain semua, tetep bye semua, ndak ada yang bisa kukerjakan. Punya bayi lebih rempong cuy, saya pun kibar-kibar bendera putih sama urusan rumah, kalau bisa yaa dikerjain, kalau nggak bisa yaa sudah maapkeun yaa mama onty. 

Waktu 24 jam terasa kurang cuy, dan pada akhirnya feel useless, apa coba yang dikerjain, lebih banyak yang terbengkalai. Bahkan ini udah nggak kuliah aja pekerjaan domestik keteter, ndak ada yang dikerjain, hiks....Sempet demotivasi menjelang deseperate gitu, terutama kemarin pas yudisium ternyata nilai saya lumayan parah dibandingkan teman-teman, maybe i'm the worst one, kecewa gitu sama diri sendiri, it's not me, biasanya aku nggak begini. Dan setelah berpikir lagi dan lagi, ternyata aku ini ndak sesuai dengan harapan, makin kecewa dan mewek lah diri ini, ndak bisa cerita ke siapa-siapa, lidah terasa kelu, yang biasanya cerewet kalo urusan curhat cuma bisa diam aja. Harusnya aku begini di saat begitu, harusnya aku begitu di saat begini, harusnya aku begini menghadapi A, B, dan C, pikiran-pikiran nggak jelas itu terasa berputar-putar dan terus menghantui.

Perlahan-lahan, mau nggak mau harus berdamai sama diri sendiri. Ndak ada yang perlu dikecewakan. Syukuri aja semua yang ada agar Allah menambah nikmatnya. Meskipun susah akhirnya bisa juga mikir begini :
Well, iya mungkin nilaiku nggak sebagus teman-teman, tapi aku bisa lulus tepat waktu dengan nilai yang cukup, selama kuliah hamil, melahirkan, sepuluh hari setelah melahirkan harus ke kampus lagi, malam ini anak pulang dari rumah sakit karena bilirubin tinggi besoknya UAS, ndak belajar, ngerjain tesis pun dengan usaha seadanya, bahkan itu tesis dibilang karya ilmiah sama adek sendiri. Tapi Allah mudahkan ketika sidang tesis, meskipun dosen pembimbing sedikit kecewa, tapi alhamdulillah lancar nggak ada debat kusir, dosen penguji yang dari fasilkom, Pak Yudho baik sekali, dan aku save dari Bu Farah karena si mas bimbingannya Bu Farah telat mulai sidangnya, jadi pas aku sidang, beliau masih di ruangan sebelah. Pas minta tanda tangan untuk lembar pengesahan pun Allah mudahkan sekali, Alhamdulillah, tabarakallah.

Yes meskipun ada penyesalan di sana-sini, yaa sudah lah cukup menjadi pelajaran bagi diri sendiri. Ndak perlu bercita-cita muluk membuat perubahan untuk orang lain, siapa lah saya ini, cuma manusia biasa, yang gampang sekali tergoda untuk leyeh-leyeh, hehehe. Bersyukur kepada Allah atas nikmat dan karunia-Mu Yaa Rabb. Anugerah yang luar biasa dan pencapaian yang cukup wow buat saya yang aslinya dari kampung di pucuk gunung nun jauh di sana, orang terdekat pasti tahu lah bagaimana latar belakang keluarga dan kehidupan saya. Sudah lah yang lalu biarlah berlalu, sudah selesai perkuliahan kemarin, ke depannya lebih berat lagi hidup ini, iyaa harus kerja ninggalin anak, semakin hari semakin berat sepertinya, hiks.



Semmmangat....
Keep on fighting till the end....
.
.
.
Poedjie







»»  Read More...

Jan 1, 2019

Bye 2018, Hello 2019


Assalammualaikum,
Selamat tengah malam.... Selamat tahun baru.....

Hiaaaa.... Tumben-tumbenan jam segini masih melek ini mata, biasanya ikutan tidur sama Ghifaz, ndak ada kebangun-bangunnya sedikit pun #IbukKebluk
Beres pumping terakhir di 2018 dan perdana di 2019 mataku masih terang benderang, namun tak berselera lanjut ngerjain PPT buat sidang, jadi lah tengok ini blog, terus pengen ketik-ketik, hehehe
Ndak ada salahnya kan yaa curhat-curhat dikit 😃

Ehm.... 2018 memang bukan tahun terbaik aku, tapi banyak momen-moment dagdigdug penuh drama yang datang menghampiri, dan aku bersyukur sekali bisa melewati tahun 2018 kemarin dengan sehat wal afiat. Mari kita rekap......

Januari 2018
Pengumuman nilai-nilai semester 1, alhamdulillah nilai-nilaiku cukup meskipun jauh dari impian dan pupus lah harapan untuk cumlaude, tapi yaa sudah lah perjuangan sudah dilakukan semaksimal mungkin, ndak mudah buat aku kuliah dalam keadaan hamil yang amat sangat payah, mual dan muntah yang datang bertubi-tubi baik di kelas saat perkuliahan maupun saat ujian. Harus sujud syukur dan berterimakasih sama Allah, nilai-nilai meskipun ala kadarnya tapi masih bisa bertahan di UI.

Mei 2018
Melahirkan anak menthis dengan persalinan normal dalam kondisi terbaik yang bisa aku berikan, lahir secara alami tanpa intervensi yang nggak diperlukan. Ghifaz bayi yang aku lahirkan dalam suasana persalinan yang tenang diiringi muratal dan lantunan dzikir kala menunggu gelombang cinta datang. Sepuluh hari pasca bersalin harus ngampus, besoknya Ghifaz harus fototerapi karena bilirubin tinggi selama dua hari di rumah sakit. Malam pulang dari rumah sakit esoknya harus UAS Pelaporan Korporat, sempat belajar? Tentu tidak. Bismillah berangkat ke kampus, ujian pun dengan mata yang sepet karena menahan kantuk. Nggak bijak rasanya kalau dengan usaha belajar yang minim sekali namun berharap mendapatkan nilai terbaik, lagi-lagi semester ini pasrah dengan nilai-nilai, teringan nasihat Pak Ii "Yang penting nilai cukup lulus tepat waktu", setidaknya nasihat ini menghiburku dan nggak makin terpuruk menangisi nilai-nilai.

November 2018
Nekat kirim artikel ke jurnal sebagai syarat sidang. Kalau ndak lulus ontime dampak buruknya banyak sekali, jadi mantra "Yang penting nilai cukup lulus tepat waktu" sangat membuat hati dan pikiran jadi adem. Alhamdulillah LOA sebagai syarat sidang didapat. Tapi barusan cek ke web jurnalnya, submissionya ilang, panik ini. Yaa Allah semoga tetap bisa terbit artikelnya.

Desember 2018
Berjuang nyelesein tesis sampai detik-detik terakhir alhamdulillah bisa daftar, bismillah. Tanggal 30 panik lagi karena nggak baca chat jadi belum upload naskah ringkas untuk mata kuliah publikasi, jadilah telat dan udah ditutup. Komunikasi sana-sini alhamdulillah dibuka lagi dan bisa upload. Tanggal 31 panik dapat email dari jurnal, intinya ndak bisa diterbitin, hiks.... Panik lagi, Yaa Allah  Gusti sampai dengan saat ini masih ndak tahu bagaimana nasib artikelnya. Mudahkanlah Yaa Rabb....
Lupakan dulu masalah jurnal, karena harus fokus ke sidang tanggal 7 Januari nanti, masih harus bikin PPT dan latihan untuk sidang, semmangat.....

Iyaa 2018 penuh dengan drama sampai dengan detik-detik terakhir. Belum semuanya diceritain yaa, yang asi seret produksinya dan bikin kepala cenut-cenut, konflik sama orang tua karena misskomunikasi, dan lain sebagainya yang mengurus energi jiwa dan raga. Yaa sudah lah jalani dan nikmati saja. 2019 sudah bersama kita, ndak ada salahnya kan nulis pengharapan-pengharapan, biar semmangat lagi.

Inilah harapan-harapanku itu :
  • Sidang dan revisi tesis dengan lancar sampai dengan lulus. Yaa Allah mudahkanlah artikel yang di jurnal, semoga layak dan bisa terbit Yaa Rabb.
  • Mengisi waktu sampai dengan masuk kerja kembali sebaik-baiknya. Quality time bersama keluarga terutama Ghifaz.
  • Ayo memasak.... cita-cita luhurku bawa bekal ketika masuk kerja nanti, aamiin.
  • Ayo berhemat... Ndak impulsif belanja, belanja yang perlu dan penting saja. Ayo investasi.
  • Daftar haji... aamiin
  • Mengosongkan lemari, sumbangin pakaian yang jarang dipakai.
  • Disiplin dalam hal apa pun, ndak menunda-menunda urusan / pekerjaan
Itu dulu lah yaa, nanti diupdate lagi kalau kepikiran. Semoga lebih baik lagi.....

Salam,
.
.
Puji
»»  Read More...
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men