Showing posts with label Artikel Majalah. Show all posts
Showing posts with label Artikel Majalah. Show all posts

Mar 6, 2014

Nyaman Memakai Lensa Kontak


Lagi iseng baca Majalah Kartininya Bu'e nemu artikel tentang lensa kontak. Aku belum pernah pakai lensa kontak, ga ngerti cara pakainya, hahaha, berasa lebih ribet aja dibanding pakai kacamata. Harus merhatiin expired date-nya, lebih costly, harus bersih dan teman-temannya itu, lhaaa aku jabrah begini orangnya, hehehe....
Yaaa siapa tahu suatu saat nanti butuh tinggal dicari di blog, secara matanya minus..... Ini apa adanya aku ketik ulang dari artikel Majalah Kartini No. 2367 6 - 20 Februari 2014. Aku sendiri gagal paham sama penjelasan cara memakai lensa kontak, mungkin karena ga praktik langsung kali yaaaa, jadinya bingung.... 
Semoga bermanfaat........ 

"Lensa kontak sudah lama dikenal oleh masyarakat. Karena praktis, banyak orang memakainya. Sayangnya, banyak yang kurang memahami seluk beluk pemakaian sehingga tidak nyaman saat dipakai. Berikut hal-hal yang harus diperhatikan sehingga lensa kontak nyaman saat dipakai."

Dengan alasan lebih praktis, banyak orang meninggalkan kaca mata, dan  berganti memakai lensa kontak, juga memiliki nilai estetis sehingga menambah percaya pemakai. 
Meski praktis, tetapi pemakaiannya harus hati-hati. Kalau salah dalam perawatan dan pemakaian bisa menimbulkan efek kurang baik. 
Risiko yang sering ditemukan ialah infeksi. Infeksi bisa ringan, sedang, dan berat. Berat ringannya infeksi tergantung dari penyebab dan lama gangguan. Bila gangguan yang ada segera diatasi, tentu tidak akan menjadi berat.

JAGA KEBERSIHAN
Untuk menghindari infeksi, menurut dr Wardani, yang perlu diperhatikan adalah menjaga kebersihan. Saat memasang atau melepas, kontak lensa akan tersentuh jari. Hal ini bisa menjadi sumber infeksi. Jari yang tidak steril atau bersih menjadi tempat kuman masuk ke dalam mata sehingga timbul infeksi. Karena itu perhatikan memasang dan melepas lensa kontak.
Memasang lensa kontak, perhatikan hal berikut :
  • Pertama, cuci tangan dan pada saat sudah selesai pastikan tangan bersih dan kering.
  • Pakai tangan kanan, letakkan lensa kontak di jari telunjuk.
  • Pakai jari tengah di tangan yang sama, tarik kelopak mata bawah ke arah bawah, dan pada saat bersamaan pakai jari telunjuk dari tangan satunya untuk tarik kelopak mata ke arah atas. 
  • Lihat ke atas.
  • Perlahan letakkan lensa kontak di bagian bawah putih mata.
  • Lepaskan dan juga lepaskan kelopak mata keduanya.
  • Tutup mata beberapa detik dan lensa kontak akan secara otomatis ke posisi tengah mata.
  • Ulangi langkah ini untuk pemakaian lensa kontak satunya.
 Sedangkan untuk  melepas lensa kontak perhatikan berikut :
  • Pertama, cuci tangan hingga bersih dan kering.
  • Lihat ke atas dan tarik kelopak mata bawah ke arah bawah dengan jari tengah.
  • Letakkan jari telunjuk pada bagian bawah lensa kontak.
  • Tarik lensa kontak ke bawah ke bagian putih mata.
  • Jepit perlahan lensa kontak dengan jari telunjuk dan ibu jari dan lepaskan dari mata.
  • Ulangi langkah ini untuk membuka lensa kontak dari mata satunya.
JANGAN KEDALUWARSA
Infeksi bisa juga akibat kontak lensa yang kedaluwarsa. Perlu dipahami bahwa lensa kontak ada masa pemakaian atau masa kedaluwarsa. Karena itu pemakai harus mengetahui kapan masa pemakaian telah habis. Lensa kontak jenisnya beragam. Masa pakainya juga bervariasi, ada yang hanya sehari, mingguan dan bulanan. Bahkan cairan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan lensa kontak juga memiliki masa pemakaian. Karena itu pemakai harus mengetahui dan mengindahkan petunjuk pemakaian. Jangan sampai memakai lensa kontak yang sudah kedaluwarsa.
Beberapa kasus pernah dilaporkan, ada pemakai yang merasa sayang untuk membuang karena lensa kontak yang dirasa masih bagus dan masih saja memakainya. Padahal bila masanya sudah habis maka kadar sterilisasinya sudah menurun sehingga jika dipakai sangat berisiko menyebabkan infeksi.
Bagi pemakai kontak lensa yang aktivitas sehariannya di dalam kantor, biasanya tidak terlalu bermasalah. Problem umumnya terjadi pada pemakai yang aktivitasnya lebih banyak di luar kantor. Paparan debu atau polusi mudah menyebabkan terjadinya infeksi.
Selain infeksi ada risiko lain. Lensa bisa patah saat dipakai dan menimbulkan luka. Mungkin luka hanya di sekitar kornea tetapi penyembuhan tidak dapat pulih 100%. Pandangan tidak akan jernih seperti dulu, melainkan agak samar karena luka bisa meninggalkan bekas pada kornea. Karena itu jaga dengan baik afar lensa kontak tidak sampai patah.

PERLU DILEPAS SAAT TIDUR
Mengingat lensa kontak berisiko bila dipakai dalam waktu lama, sebaiknya pemakaiannya harus dibatasi. Pemakaian yang aman, setiap harinya maksimal antara 6 hingga 8 jam. Sisa waktu yang ada biarkan mata apa adanya secara alami. Mata yang alami akan mendapatkan air mata secara cukup sehingga selalu sehat.
Yang juga perlu diperhatikan, hindari mengenakan lensa kontak pasa saat tidur. Pada saat tidur kelopak mata tertutup sehingga tidak akan mendapat makan yang cukup. Kondisi ini akan tambah berat bila memakai lensa kontak. Asupan makanan mata jauh makin berkurang.
Tidak semua orang bisa memakai lensa kontak. Mereka yang tidak disarankan memakai ialah yang produksi air matanya kurang. Produksi air mata masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang berlebihan, sedang dan kurang. Bagi yang produksinya kurang tidak disarankan memakai, sebab tidak memakai lensa saja sudah berkurang, apalagi memakainya, menjadikan mata makin bertambah kering.
Orang yang pekerjaannya lebih banyak di luar kantor juga tidak disarankan memakai lensa kontak. Saat naik kendaraan bermotor, angkutan umum, atau di keramaian umum, mata bisa terkena debu, asap kendaraan atau polutan lain. Keadaan itu bisa memicu munculnya iritasi atau infeksi pada mata yang memakai lensa kontak.

SEBAIKNYA DILAKUKAN
  • Selalu laksanakan dengan disiplin saran dan petunjuk.
  • Tanyakan ke dokter jika setelah memakai mata Anda merah, sakit atau penglihatan buram.
  • Selalu cuci tangan dengan bersih memakai sabun dan air sebelum memakai lensa kontak dan keringkan dengan handuk.
  • Selalu periksa lensa kontak tidak terbalik sebelum memakainya.
  • Selalu mulai dengan lensa kontak mata kanan agar tidak tertukar.
  • Pakailah lensa kontak sebelum make-up dan melepaskannya sebelum menghapus make-up.
  • Pastikan lensa kontak basah setiap saat, baik di dalam mata atau ketika disimpan di dalam tempat lensa kontak.
 JANGAN DILAKUKAN
  • Jangan memakai lensa kontak jika mata merah, sakit atau penglihatan buram.
  • Jangan memakai lensa kontak jika rusak.
  • Jangan memakai lensa kontak lebih lama dari yang diinstruksikan.
  • Jangan menggunakan lensa kontak yang telah kedaluwarsa.
  • Jangan gunakan air keran atau air liur pada lensa kontak.
  • Jangan menggosok mata jika memakai lensa kontak.
  • Jangan tidur memakai lensa kontak.
  • Jangan memakai lensa kontak pada saat berenang kecuali bila memakai kacamata renang.
  • Jangan memakai lensa kontak orang lain.
  • Jangan letakkan lensa kontak di atas televisi atau dia atas alat yang hangat atau panas.
»»  Read More...

Oct 11, 2013

Memenangkan Kehidupan


Lagi iseng baca majalah Paras No. 114/TahunX/April 2013,   ada artikel yang menarik perhatian, Rubrik Risalah Doa Hal. 102 - 103. Aku ketikin lagi dan diposting di sini, semoga bermanfaat.....



 "Und setzt ihr nich das Leben ein, nie wird euch das Leben gewomennen sein."
(Dan Hidup yang tidak dipertaruhkan, tak akan dimenangkan)
Kutipan yang disukai Sutan Sjahrir dari syair Friedrich Schiller (1723-1796) dalam H. Rosihan Anwar : Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan, Jakarta : Penerbit Buku KOmpas, Februari 2012, hlm 7
"Jika bukan karena perintah menegakkan kalimat tauhid, sudah tentu kita akan tinggal di sini, memperbudak para penghuninya, dan menikmati segunung makanan yang ada di hadapan kita," ucap panglima Islam Khalid  bin Walid begitu ia dan bala tentaranya membebaskan Syam yang subur dan beriklim sejuk, dari prajurit Romawi. Bayangkan, sebuah kemenangan sempurna, namun karena sudah dibalut oleh energi transendensi, tiada lagi winnee takes all, sementara the looser loses all.

Tidak bisa dibayangkan, tentara dari gurun kering kerontang  nan sahaja, tidak terdidik oleh filosofi tinggi skolastik, namun mampu berpengarai santun nan luhur dalam peperangan. Tidak sebelum dan sesudah era Islam, perang menjadi bukan semata penaklukan, peluluhlantakan, perampasan harta bendanya, pemerbudakan para prianya dan pemerkosaan para perempuannya, melainkan ajakan menuju penuhanan yang esa, dan pengakuan Muhammad Saw sebagai utusan purna-Nya. Bagi yang tak bersedia, ada jalan elegan, yakni mereka dianggap kafir zimmi, yang diakui keyakinannya, dan diberi kebebasan, asal mereka membayar jizyah, atau pajak perlindungan.
Berbekal tuntutan Al-Quran suci dan petuah Nabi, kaum muslimin pun mengembangkan peradaban, mempercantik dunia dengan hasil olah budi-teknologi, sehingga terciptalah kota-kota nan indah, yang didalamnya berisi bangunan berarsitektur elegan, pabrik pengolahan bahan sandang dan bahan pangan, penghimpunan masyarakat aneka etnis dan keyakinan dengan soliditas yang kuat, pengembangan lembaga pendidikan dan pengetahuan bersemagnat pencerahan dan keimanan. Namun seindah-indahnya bangunan arsitektural, tetap kerendah-hatian dipahatkan dalam kaligrafi berbunyi "La ghalib illa Allah" tiada kejayaan selain Allah Swt, sebuah pengakuan betapa kecilnya manusia si pencipta peradaban itu di hadapan Yang Mahatinggi.

Demikianlah, kita kaum muslimin diajarkan untuk menjayakan dunia, demi meraih kesuksesan. Hanya saja, kita tidak boleh memutlakan dunia, yang durasinya tak lebih ibarat beristirahat di sebuah pohon, dalam rangka menuju tempat yang masih teramat jauh, yakni negeri akhirat. Oleh karena itu, tidak seperti pandangan hidup (isme) dunia berkembang, Islam tidak membolehkan hedonisme yakni paham mencari kenikmatan dunia tiada batas, atau sebaliknya penganut absurditas, bahwa hidup ini tak lebih dari kesia-siaan tanpa makna yang hanya menunggu mati. Dengan kata lain, imperatif hidup sebagai kaum muslimin adalah menggapai kesuksesan hidup di dunia dan akhirat sekaligus.

Meretas Kesuksesan
Sukse diartikan sebagai suatu keberhasilan yang dicapai. Apa saja resep kesuksesan? Berkat kerja keras, kerja cerdas, kerja efektif, tekad yang bulat untuk menggapai asa, dan sebagainya. Mengapa orang yang mendambakan kesuksesan dalam  hidupnya? karena tak ada orang yang ingin hidupnya gagal bukan? Orang yang sukses diandaikan mendapat kenyamanan dalam hidupnya, atau kehormatan dalam peran diri atau kemasyarakatan.
Mari kita melihat uswah pada diri Baginda Muhammad Saw. Memang, karena faktor keterpilihannya sebagai calon manusia besar, kita melihat adanya aneka keajaiban yang mengiringi Rasulullah. Namun demikian, secara kasat mata, sebagai manusia, Rasul juga harus  mengalami pahit-getirnya perjuangan menggapai kesuksesannya itu.

Beliau pernah mengalami keterputusan wahyu,, sehingga, tiada lagi yang bisa beliau kabarkan mengenai berita langit yang ditunggu-tunggu para pengikutnya. Sebaliknya para musuhnya bersuka cita, dengan menyatakan, Muhammad telah ditinggalkan Tuhannya. Pada saat kritis, gelisah, bertanya-tanya, apakah Allah Swt marah kepada diri Muhammad Saw, turunlah surat Ad-Dhuha, khususnya sapaan pada ayat 3. "Tuhanmu tidaklah meninggalkanmu dan tiada (pula) Dia sangat membenci."

Tidakkah  diri kita juga pernah, atau malah sering, berlaku seperti itu, berharap kabar apa yang diharapkannya, namun lama tiada berita, dan tiba-tiba apa yang diharapkan pun menyua hingga sanubari yang gelisah itu mendadak ruah oleh kegembiraan? Sayang, rasa tergesa, tidak sabar, tak jarang menerpa orang-orang yang dilanda gelisah, sehingga, mereka memutuskan sesuatu secara serampangan, tak tertakar optimal. Akibatnya, selain dirugikan oleh keputusan yang mereka buat, bukan tak mungkin keyakinan bahwa Tuhan akan menolong sedemikian luntur. Gerak menjauh (sentrifugal) itu pun akan diikuti oleh rasa kurang syukur.

Ada lagi uswah Rasulullah. Ketika Mekkah terasa sempit oleh penentangan demi penentangan atas risalahnya, Rasul pergi ke Thaif. Kota sejuk yang menjadi tempat peristirahatan orang Quraisy ini diharapkan menerimanya dengan kesejukan pula. Ternyata, perlakuan yang diterima beliau tak beda jauh, bahkan beliau dilempari batu, hingga berdarah-darah.  Langkah lainnya adalah meyakinkan para kabilah dalam prosesi tahunan (haji pra-Islam). Itu pun tidak ditanggapi secara layak oleh kabilah.

Sebenarnya tidak menolak semua. Ada pula yang mau menerimanya, namun tidak utuh. Misalnya, menerima Islam, namun tak mau menolong bila Rasul mengalami kesulitan dalam peperangan. Ada pula yang menerima, namun tetap netral bila meraka berhadapan dengan negeri yang secara tradisional bersekutu atau mengikat janji dengan kabilah tersebut, padahal negeri itu memusuhi Rasulullah. Bagaimana Rasulullah bisa mendapatkan pembelaan dan janji kesetiaan apabila yang dijanjikan hanya setengah-setengah? Bagaimana Islam bisa tegak bila dibayangi oleh pengkhianatan atau pembiaran?

Ketika semua jalan hampir tertutup, dibayangi oleh tugas yang berat membentang, Rasul pun mengembalikan kepasrahan lewat doa yang termaktub dalam QS. Al-Isra' [17] : 80 :
"Rabbii, adkhilnii mudkholash shidqi, wa akhrijnii muhrajash shidqi, waj'allii milladunka sulthaanan nashiiraa" (Rabbi, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah (pula) aku ke tempat keluar yang  benar, dan  berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong)."

Subhanallah, ALlah membuka jalan itu. Kabilah Aus dan Khazraj, dua suku yang saling berseteru di Yatsrib (kelak Madinah), sepakat mengakhiri pertikaian selama ratusan tahunnya, juga secara cerdas menangkap visi Nabi yang akan memuliakan martabat mereka. Jadilah Nabi dijadikan pemimpin mereka, nabi juga mendapatkan teritorial pertahanan sekaligus pembelaan total apabila Islam yang dibawakannya diganggu oleh para musuh. Sejarah mencatat, dari Madinah inilah, Islam disemaikan secara luas, hingga ke segenap penjuru dunia. Sebuah kesuksesan yang belum pernah terjadi, cetus Michael Hart, bahwa bangsa gurun yng disepelekan ini menguasai dunia.

Alhasil, kesuksesan adalah buah dari kerja keras, ketabahan, kekuatan jiwa, disiplin penuh dedikatif. Keberuntungan? Mungkin, ini tak mungkin terjadi terjadi berulang kali, bisa jadi momentum yang tepat, namun selebihnya adalah optimalisasi dari daya-daya diri. Galibnya, tiada kesuksesan tanpa kerja, tanpa keringat, tanpa air mata, karena di situlah kunci-kunci menuju keberhasilan. Pada Islam-lah, ujar Ismail Faruqi, kemenangan dalam hidup harus menyata di dunia ini, namun semua itu tak boleh menghilangkan nilai-nilai transendensi-llahi.

Doa Meraih Sukses
Allahumma innii as aluka sihhatal iman
Wa iimaana khuluqil hasani
Wa najahan yatbu'uhu falahun
Wa rohmatan minka
Wa'aafiyatan wa maghfirotan minka wa ridzwaana

"Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu: Iman yang sehat;iman dalam akhlah yang baik / mulia; sukses yang diikuti keberuntungan; rahmat kasih sayang dari-Mu, dan kesehatan, ampunan serta rida dari-Mu."
 HR Ahmad No. 7923, dikutip dari mimtulungagung.wordpress.com

.
.
.
Semoga kesuksesan senantiasa menyertai kita semua baik di dunia maupun di akhirat. Semoga Allah senantiasa meridhai apa pun yang kita lakukan dalam kebaikan, amin.
»»  Read More...

Sep 27, 2013

Kecanduan Handphone pada Generasi Muda Bisa Menyebabkan Demensia, Fungsi Otak Menurun


Tertarik sama judulnya, baca sebentar, terus diketik dehhh. Ini aku ketik ulang dari Majalah Kartini No. 2357 Periode 19 September - 3 Oktober 2013. Semoga bermanfaat......

Dewasa ini, rasanya hampir mustahil orang tidak punya handphone maupun komputer untuk mendukung performa sehari-hari. Mulai dari kelompok usia anak sampai dewasa, dari bangun tidur sampai tidur lagi, di acara non-formal dan acara formal,  baik sedang sendiri maupun dalam kelompok, gadget hadir. Padahal menurut penelitian terbaru, ketergantungan pada gadget itu dapat menurunkan fungsi otak alias demensia
Pesatnya kemajuan teknologi di era modern ini patutlah diacungi jempol. COba saja simak promosi di berbagai media yang menawarkan gadget dengan fitur tercanggih. Semua berlomba menawarkan telepon genggam dan laptop dengan koneksi internet dilengkapi fitur-fitur berkualitas. 

Saking lengkapnya, tampaknya gadget itu tidak boleh ada di luar jangkauan kita. Sungguh mengejutkan studi yang didanai oleh Facebook menunjukkan bahwa sebanyak 62 % orang mengaku ponsel adalah hal pertama yang mereka cari ketika bangun tidur. 89% diantaranya akan langsung mengutak-atik ponsel selama 15 menit pertama  bangun tidur. 

Sementara penelitian serupa yang berfokus pada generasi muda pernah dilakukan oleh Universitas Maryland dan melibatkan 1.000 pelajar di seluruh penjuru dunia. Para peserta diminta untuk tidak mengakses media selama 24 jam. Hasilnya? 50% tidak bisa melalui 24 jam itu karena menderita gejala tersisihkan. 

Maka tak salah jika penelitian SecurEnvoy di Inggris melontarkan istilah Nomophobia (no mobile phone phobia), yakni merasa cemas dan takut kalau tidak bisa menggunakan ponsel, entah karena kehabisan baterai, kehabisan pulsa, atau tidak ada sinyal. 

"Penggunaan gadget zaman ini hampir sama sepreti dulu mobil baru diciptakan, semua rasanya jadi lebih mudah, maka terjadi penggunaan yang agak berlebihan," buka Adityawarman Meladi, MPSi, seorang psikologis klinis. 

Ketergantungan pada Gadget
Statemen Adityawarman tidaklah mengada-ada. Menjadi fenomena sosial saat ini di mana orang tak bisa lepas dari gadget. Penelitian-penelitian di atas membuktikan, realitas sosial pun memperlihatkan hal demikian. Bukan hanya orang dewasa, anak-anak usia SD bahkan masih TK pun memegang HP, apalagi remaja. Usia inilah yang konon paling banyak mengikuti tren teranyar dan terlengkap fitur-fiturnya. Ini kata Nadya, seorang remaja SMP kelas tiga. 
"Waktu habis liburan kemarin begitu masuk banyak teman-temanku yang punya HP terbaru. Yang tipenya S4 lah, padahal itu harganya 7 jutaan lebih," ceritanya menggebu-gebu. "Sebenarnya aku juga pengin ganti HP, tapi ayah nggak ngizinin  sih. Soalnya tabunganku nggak cukup kalau beli sendiri," lanjutnya setengah merengut. 

Wina, teman sekelas Nadia mengakui ia membeli tipe terbaru yang disebut Nadia. "Tapi kubeli dari tabunganku sendiri. Makanya Mama Papa nggak melarang. Tapi Mama marah sih begitu tahu aku beli HP baru. Katanya saat ini yang penting belajar, dan HP itu yang penting fungsinya aja, nggak perlu canggih-canggih. Tapi itu kan kacamata orang tua kudet hehe...." katanya berseloroh. Kudet artinya kurang update, bahasa gaul remaja sekarang. 

Persoalannya bukan alat atau gadget-nya. Tetapi bila penggunaannya berlebihan seperti disinyalir psikolog klinis Adityawarman. Betapa anak-anak sekarang benar-benar tak bisa lepas dari gadget. Kalau dulu ada penelitian anak-anak menghabiskan waktu menonton TV, 3 sampai 4 jam sehari. Kini waktunya sudah beralih ke gadget, bahkan bisa lebih lama dibanding menonton TV. 

Ini diakui Melani, ibu dua orang anak remaja. "Anak-anakkku contohnya. Jam setengah sembilan malam sudah selesai belajar. Terus langsung ambil HP-nya dan sibuk ketak-ketik HP. Kalau nggak HP, ya di depan internet. Dan itu bisa sampai tengah malam kalau saya nggak awasi dan tegur terus-menerus,"kata Melani yang mengakui setiap 15 menit setelah pukul 10 mengingatkan putrinya untuk tidur. 

"Kalau sudah pukul sebelas lebih seperempat masih juda main HP atau internet, terpaksa saya ambil gadget-nya biar pun mereka ngomel-ngomel."

Melani bilang, itu harus dilakukannya karena gadget juga menyimpan dampak negatif bila disalahgunakan pemakaiannya. "Positifnya ada, tapi negatifnya juga lebih besar kalau disalahgunakan. Jadi malas belajar, konsentrasi menurun, bahkan sampai penculikan anak lho."

Benar yang disebut Melani dan mungkin juga para orang tua lainnya. Bahkan sebuah penelitian baru menyebutkan bahwa ketergantungan gadget mengakibatkan penurunan fungsi otak alias dementia. Nah, mau anak kita masih muda tapi jadi pelupa dan bodoh?

Fenomena Malas Berpikir
Penelitian tentang gadget di Indonesia memang belum digelar dalam skala besar, namun berdasarkan pengamatan sosial nyata juga tidak bisa dipungkiri, kompletnya berbagai fitur dalam satu gadget bisa membuat penggunanya, yang kebanyakan generasi muda jadi berpikir praktis saja. 

Ambil contoh ponsel. Mau lihat kalender, ada di ponsel. Fungsi MP3 player ada pula di ponsel. Tidak perlu beli kamera karena ponsel pun punya. Bahkan tidak perlu buku dan alat tulis karena bisa mencatat di ponsel. 

Akibatnya bisa ditebak, orang jadi malas berusaha dan malas berpikir. JIka ditanya kontak saudara, sangat jarang ada orang yang ingat, kebanyakan malah berkata, "Coba sebentar, saya lihat dulu di kontak ponsel saya."

Tidak salah memang, karena fungsi utama gadget kan memang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan. Tapi jadi muncul pola heuristic model, yaitu pola pikir yang efisien, apa-apa mau serba mudah," terang Iman, panggilan akrab dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Munculnya teknologi mesin pencari seperti Google pun ikut-ikutan membuat orang tidak mau repot-repot membaca buku apalagi bertanya pada sekitar, tinggal googling saja. Pola serba mudah ini juga diaplikasikan untuk menilai orang lain. Contohnya Facebook. "Mudah saja kalaukita mau lihat informasi tentang orang lain melalui apa yang dia tulis di akun media sosialnya. Kalau kita suka dengan posting-annya, kita like, kalau tidak suka ya kita dislike."

"Jadinya orang gampang menilai negatif, padahal belum tentu kita paham benar tentang orang itu. Hanya parsial saja, dilihat berdasarkan apa yang ditulis, kebiasaan itu 'kan tidak baik." Lanjut Iman.

Gadget Cenderung Sebabkan Dementia
Bukan tidak mungkin, jika kebiasaan malas berpikir ini dipelihara maka daya kritis otak manusia jadi menumpul. Semakin seseoran fokus pada satu  hal seperti ponsel maupun game sangat mungkin mengurangi fokus pada hal lain.
Para pecandu gadget sering kali hanya mengembangkan bagian otak kirinya sementara otak kanan tidak berkembang. Padahal otak kanan berhubungan dengan daya ingat dan perhatian. 15 % kasus otak yang gagal berkembang diyakini sebagai slaah satu faktor penyebab terjadiny demensia usia dini. 

"Ini bisa terjadi karena beberapa faktor, sebut saja tidak tepat memilih gadget, tidak tepat program yang ada dalam gadget, tidak tepat situasi saat menggunakan gadget, atau pun tidak tepat proporsi penggunaan gadget, terangnya.

Demensia sendiri umumnya dialami oleh orang tua usia lanjut, sekitar 70 - 80 tahun. Ini adalah istilah untuk gejala penurunan fungsi intelektual yang 1memengaruhi aktivitas sosial. Tapi tentu hal ini tidak secara umumm menimpa semua orang tua. 

"Contoh nenek saya,"kata Iman memberi contoh. "Usianya sudah 100 tahun. Walaupun fisiknya memang sudah lemah tapi masih lancar bicara dan fungsi kognitifnya masih  baik. Bahkan, banyak yang kadang bertanya nomor telepon dan tanggal lahir saudara jauh, dan beliau masih ingat, karena setiap hari dia menelepon semua saudara satu per satu."

Jika dibandingkan dengan generasi muda saat ini, tentu agak mencemaskan. ANak usia dua sampai lima tahun saja sudah dikenalkan dengan peralatan elektronik. Cut Nurul Kemala, MPsi, Psikolog Klinis anak mengatakan, "Ketika anak butuh stimulasi fisik yang cukup beragam seperti melompat dan mengejar bola, dia justru anteng dengan permainan di tablet atau smartphone. Orang tuanya, yang tentu saja memperbesar kemungkinan terjadinya perlambatan perkembangan fisik."

Pendapat Nurul didukung oleh pengalaman nyata Amelia yang menceritakan repotnya jika anak sudah candu gadget. "Waktu usianya 7 bulan, Tony hanya bisa disuruh duduk diam kalau diberi tontonan dari Youtube, pas 9 bulan suah bisa buka lock iPad sendiri. Eh, sekarang usianya lima tahun sudah minta handphone sendiri, lengkap dengan akses internet. Aduh, kayaknya terlalu cepat ya!" tulis Amel pada jejaring sosial sekaligus menceritakan kecemasannya.

Waspada Generasi 'Merunduk'
Kisah seperti Amelia bukan hanya satu atau dua. Belakangan ini para ahli mengkhawatirkan munculnya generasi baru yang tidak bisa lepas dari gadget. "Generasi berzikir, kalau saya bilang," kata Iman tertawa. "Karena selalu sibuk dnegan jari-jarinya, sampai lupa kalau ada orang lain di sampingnya."
Istilah lain yang serupa adalah generasi bisu atau generasi merunduk. Ciri generasi ini sering tidak kenal dengan lingkungan sekitar tapi malahan kenal dengan orang yang lokasinya nu jauh di sana, tentunya berkenalan dan berinteraksi di dunia maya. 

Tapi, akibat seringnya  berinteraksi lewat dunia maya, mereka gagap ketika harus bicara secara langsung dan sulit bertanggang - rasa karena terbiasa gaya blak-blakan sperti ketika sedang mengetik. 

Kurangnya rasa tenggang rasa akhirnya membuat kualitas hubungan sosial menuruan dan peran serta kualitas sosial berkurang. Contoh simpel, ketika di bus kota, berapa banyak anak muda yang mau berdiri dan memberikan temapt duduk pada orang tua yang berdiri di depannya? Tidak banyak bukan? Kebanyakan tidak melihat -- pura-pura tidak melihat -- sibuk dengan alat elektriniknya masing-masing, pun ketika diminta petugas untuk berdiri, tidak bisa mendengar karena memasang headset dengan volume keras. 

"Bagaimanapun, kita adalah makhluk sosial yang selalu perlu me-maintain hubungan baik dengan sesama, lho. Padahal saat kita fokus pada di dunia maya, kita kehilangan sesuatu di dunia nyata."
Walaupun di Indonesia gejala ini diakui Adityawarman belum terlalu tampak, bukankah lebih baik mencegah daripada menanggulangi?

Cobalah Untuk Diet GadgetI
Tentu tidak ada yang salah dengan penggunaan gadget karena tujuan utamanya yang membantu manusia. Bagaimanapun gadget bagai pedang bermata dua. Harus diakui, selain memiliki sisi negatif, juga punya sisi positifnya, seperti percepatan proses belajar. 
"Kita juga bisa berkreasi tanpa batas dan mengakses informasi dengan cepat. Ingin belajar marketing? tinggal browse. Belajar strategi bisnis? Tinggal klik. Sangat mudah," bahas Iman. Ia sendiri berpendapat, di era modern ini tidak bisa hidup tanpa gadget karena akan terbalap oleh kemajuan lain. 

"Semua tergantung niat dan kemampuan untuk menunda penggunaan alat elektronik. Kalau sekarang, kita mau makan tiba-tiba ada yang kirim info, atau ada telepon lalu tidak jadi makan. Seharusnya bisa ditunda, makan saja dulu, baru dilihat. Kebanyakan malah makannya yang ditunda atau makan tapi gelisah."

Sebagai langkah awal, secara umum Iman menyarankan untuk tidak menggunakan gadget ketika bersama keluarga atau pun orang lain, agar hubungan sosial nyata bisa terbentuk. "Kecuali kalau untuk membunuh waktu saat menunggu, itu boleh saja."

Saran lain yang lebih praktis adalah tidak membawa alat elektronik sampai ke tempat tidur. Selain karena radiasi yang dapat menyebabkan kanker, tidur juga jadi tidak pulas karena rasa cemas akan tertinggal informasi terkini.

Sementara kasus anak, Nurul berpendapat tidak masalah memperkanalkan gadget pada anak berusia dua tahun yang sudah mulai berinteraksi. "Tapi hanya selama orang tua paham betul pembelajaran apa yang mau diajarkan ke anak. Jangan lupa juga untuk berinteraksi secara langsung dengan anak. Orang tua adalah guru pertama anak, dan dari merekalah anak belajar semua sistem dan moral. 

Mari Maksimalkan Kemampuan Otak Kita
Beratnya memang hanya sekitar 1,5 kg dan terdiri dari 100 juta sel saraf atau neutron, namun otak sebagai pusat sistem saraf tubuh manusia memiliki kemampuan tidak terbatas untuk berkembang. Sayangnya, belakangan banyak penelitian yang menyatakan manusia hanya memakai 12 % dari keseluruhan fungsi otak, dan sisanya 'tidur' di alam  bawah sadar. Tapi jangan khawatir, ada  banyak cara agar fungsi otak dapat terus meningkat.
Berpikir, Membaca & Bersosialisasi
Kemampuan otak akan berkembang bila kita membiasakan diri untuk berpikir kritis dan terus bertanya baik pada diri sendiri atau lingkungan sekitar. Setidaknya menanyakan 'kenapa' 10 kali dalam sehari bisa membuat otak terlatih dan kesempatan serta solusi kreatif baru akan muncul.
Membaca. Ya, dengan membaca, area otak yang terkait dengan pengalaman dalam kehidupan nyata bisa tetap aktif dan menciptakan jalur saraf  baru. Membaca enam menit dapat memangkas dua pertiga tingkat stress  daripada mendengar musik dan berjalan kaki. Jangan lupa untuk menulis kembali apa yang sudah dibaca, agar ingatan tetap terjaga. 

Memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar juga terbukti bermanfaat untuk kesehatan otak. Studi dari Harvard of Public Health, Amerika Serikat menunjukkan orang dengan kehidupan sosial yang aktif mengalami lebih sedikit penurunan memori dibanding mereka yang pasif.

Yang Menurunkan Fungsi Otak
Selain itu, harus diperhatikan pula hal-hal yang bisa membuat kemampuan dan fungsi otak menurun. Secara fisik, kurangnya jam tidur bisa membuat sel-sel otak lebih cepat mengalami kerusakan akibat terlalu lelah. 
Terlalu tergantung pada internet juga bisa jadi penyebabnya. Pada 2011, Columbia University melansir ketika sesorang konstan menggunakan Google untuk mencari tahu segala sesuatu maka ia makin jadi makin pelupa karena tidak lagi mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu. 

Orang yang pendiam atau jarang bicara dan bertukar pikiran secara verbal juga berpotensi membuat otak menjadi tumpul dan sel-sel otak tidak mendapat jalan untuk berkembang. 

Selain pendapat tersebut, tentu saja optimalnya fungsi otak kita tergantung pula pada gaya hidup yang sehat dan seimbang. Perhatikan asupan makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Biasakan makan buah, tak ketinggalan makanan yang mengandung omega3 dan zat besi.

.
.
.
.

Setelah iseng mengetik sepanjang ini yang aku tangkap adalah.... sering-sering lah ngumpul dan ngobrol di dunia nyata. Handphone simpan di tas ajah :P
»»  Read More...

Sep 26, 2012

Be Careful Ladies! "Sering Bohong Bikin Jebol Kantong"


Ini lagi bingung mo nulis apa, ehhh inget beberapa waktu yang lalu baca rubrik "atur uang" di majalah cita cinta edisi No. 19/X111 12 - 26 Septemberhasil pinjem dari bu atiek, mayan lho bisa diterapkan.
Berhubung lagi bingung juga mo ngapain ini, jadi iseng niey aku ketikin artikelnya. Awalnya c mau kasih linknya onlinenya aja, tapi ternyata ga ada di sana, jadi beneran niey tak ketikin :)

Banyak di antara kita yang selalu ngeluh bokek -- bahkan baru saja seminggu gajian. Ternyata, oh, ternyata... kebiasaan kita sendiri yang bikin keuangan berantakan. Kita terlalu sering membohongi diri sendiri demi membenarkan perilaku konsumtif. Nggak percaya? Yuk, cari tahu bersama Natalia Soeni, financial planner dari MoneynLove.

1. "Upgrade bujet untuk ponsel, ah, biar komunikasi dengan teman dan klien lebih lancar."
 Iya sih, kita jadi merasa leluasa untuk ngobrol, chatting, bahkan mengakses internet. Tapi biasanya, nih, setelang meng-upgrade bujet, kita bakal merasa kurang. Yang awalnya bujet untuk telepon dan SMS janya Rp 100 ribu, gara-garasering mengakses internet akhirnya malah berlangganan paket data 500 MB biar lebih hemat.
Dua bulan kemudian, bisa berubah lagi. Padahal kalau memang lebih sering ngobrol via WhatsApp atau BBM seharusnya, kan, bisamengurangi bujet pulsa.
Sebelum menaikkan bujet pulsa menurut Soeni, sebaiknya kita mengecek dulu kebutuhan pribadi. Kalau sering telepon mending pakai pascabayar agar tahu berapa lama kita habiskan untuk menelepon lewat print out pemakaian ponsel. Jangan ragu menyamakan provider ponsel dengan pacar atau ortu yang kerap kita telepon biar lebih murah. Paket internet unlimeted juga lebih hemat kalau kita doyan online.

--> Punya banyak nomer juga bikin biaya pulsa bengkak lho :)

2. "Mending tarik dana tunai dari ATM bersama daripada pusing mencari bang penerbit kartu ATM."
Ngaku deh, kita pasti pernah mengalaminya. Berhubung ogah ribet dan diburu waktu, kita rela tabungan dipotong sekitar Rp 5.000 saat ambil uang di ATM. Eits, kalau dalam sebulan kita bolak-balik ke ATM bersama hinggal sepuluh kali, ya, berasa juga, dong.
"Kalau untuk alasan emergency, sih, silakan mengambil di ATM Bersama. Tapi kalau belanja juga sampai kepepet, artinya nggak punya planning. Kalau sudah punya rencana belanja, kita pasti sudah tahu ketersediaan ATM di tempat tersebut atau minimal sedia uang tunai," saran Soeni.

--> Sepakat....... pake ATM bersama kalau kepepet aja. Makanya pilih Bank yang ATM-nya menjamur dimana-mana atau yang ga ada chargenya kalao tarik tunai di ATM bersama. Imbangi juga dengan memilih Bank yang biayanya administrasinya kecil atau free *hehehe ogah rugi
 

3. "Nggak masalah beli baju atau tas mahal, kan, kalau dipakai berkali-kali nanti juga impas"
Salah banget, tuh pemikiran ini. Semakin mahal barang yang kita beli, biasanya sih, kita semakin sayang untuk menggunakannya terlalu sering. Maklum, banyak ketakutan yang muncul: takut rusak, takut hilang, dan masih banyak lagi.
Biar nggak rugi -- bahkan melakukan pemborosan -- sebelum membeli sesuatu, Soeni mengajak kita berhitung untuk menilai barang tersebut.
"Misalnya dengan gaji Rp 3 juta, kita ingin membeli baju Rp 600 ribu . Kira-kira kita rela nggak hasil kerja selama lima hari untuk membeli barang tersebut? Perhitungan, Rp 3 juta dibagi 25 hari kerja sehingga 1 hari kita menghasilkan Rp 120 ribu.
"Lagi pula, bila barang mahal dipakai berkali-kali juga bakal rusak. Biasanya setelah dipikir-pikir lagi. nih, seseorang jadi nggak konsumtif, " tegasnya
 
--> Mungkin beli barang dengan kualitas yang bagus yaa, dimana memang identik dengan harga mahal. Tapi kalau mahal dan masa pakainya lebih lama why not. Kayaknya kalau punya bukannya sayang makenya deh, tapi malah tertantang ngebuktiin kualitasnya. 

4. "Bayar pakai kartu kredit dulu, deh. Kalau gajian langsung dilunasi."
Kenyataannya : kita selalu mencicil tagihan. Kadang malah hanya membayar minimum payment. Yang ada, utang kita makin numpuk! Nah, Soeni menyarankan agar kita memiliki rekening terpisah untuk membayar tagihan kartu kredit.
"Contoh, saat membeli barang seharga Rp 100 ribu, kita harus langsung transfer ke rekening B. Maksudnya agar saldo tabungan di rekening A berkurang untuk nantinya membayar tagihan kartu kredit. Jadi, kita terbiasa berpikir, ada uang nggak di rekening B untuk belanja? dengan begitu pengeluaran akan tetap terkontrol."

--> aman cyin.... aku ga punya kartu kredit *sadar diri gampang kalap
 

5. "Mumpung dapat bonus, wajib memanjakan diri, nih"
Soeni setuju bahwa kita harus memanjakan diri agar tidak stress terhadap pekerjaa. Namun, sebelumnya kita juga harus punya bujet dan planning, dong. Sehingga nggak perlu mengandalkan bonus maupun THR untuk bersenang-senang.
"Paling bagus setiap gajian kita punya pos-pos tersendiri, Kalau dulu tahunya tabungan adalah sisa uang jajan, sekarang kita justru menyisihkan dulu dana kebutuhan untuk jangka panjang. Sisanya baru boleh dipakai bersenang-senang."
Sebaiknya, sih, setiap bulan kita menyisihkan Rp 200-500 ribu untuk bersenang-senang sehingga bonus maupun THR bisa disimpan utnuk pengeluaran yang lebih penting dan bejumlah besar.

--> Iya niey suka kalap kalo dapat uang ga rutin gitu *nyengir kuda
 

6. "Beli makanan take away saja. Kan, kalau nggak habis bisa disimpan untuk dimakan lagi"
Yap, ini memang kebiasaan anak kos mengirit pengeluaran, hehehe. Tapi, kalau akhirnya kita malah malas memakannya -- sudah dingin, sih -- ya akhirnya mubazir. Yang lebih murah lagi, tuh, kalau kita sharing makanan dengan teman kost.
"Buat anak kos, bila cuma sendirian, sih, lebih hemat membeli makanan jadi daripada masak sendiri. Nggak masalah juga kalau mau menyisakan makanan buat besok. Tapi akan lebih murah jika kita iuran membeli lauk dan memakannya bareng teman kos -- tinggal masak nasi. Atau sekalian saja masak bareng, pasti lebih hemat, " ungkap Soeni

--> Kalau kayak aku lebih hemat kalau bawa bekal dari rumah untuk sarapan / makan siang di kantor, lebih sehat juga khan yaa, bebas dari mecin :) Bawa buah dan jus sendiri dari rumah juga oke tuh. Jadi kepingin bekal lagi :)

7. "Belanja produk kemasan besar pasti lebih murah dibanding kemasan kecil"
Nggak heran, deh, isi troli belanjaan kita akhirnya penuh dengan barang-barang kemasan jumbo! Padahal, belum tentu, lebih hemat, kok. Apalagi kalau  kita jarang menggunakan produk tersebut.
"Kemasan besar umumnya memang lebih murah, tapi pilihlah yang pemakaiannya sering dan terukur. Misalnya pasta gigi yang pemakaiannya segitu-segitu saja. Akan lebih hemat kalau beli yang besar, " ujar Soeni
Nah, untuk camilan, kita kudu lebih selektif. Memang keripik kemasan besar lebih murah, tapi kalau kita nggak pintar menyimpannya, rasanya bakal berubah, belum lagi kalau malah tergoda untuk menghabiskan dalam waktu semalam, hehehe. So, bijak saat belanja, ya.

--> Setuju banget untuk barang-barang yang digunakan secara rutin beli kemasan besarnya. Selain itu kalau kita udah cocok sama produk tertentu jangan coba produk lain, yang ada malah ga kepake karena ga cocok

Di artikel ini juga ada nice quote gitu.
"Bedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan. Tanya kepada Diri Sendir, Apakah kita benar-benar Perlu Membeli Suatu Barang? Harus Bisa Mengendalikan Diri Juga, Dong."

Semoga bermanfaat yaaa :)
»»  Read More...
 

Copyright © 2008 Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez | Blog Templates created by Web Hosting Men